JERUJU JADI ACNE PATCH? TIM MAN IC TANAH LAUT UNGKAP POTENSI DAN RISIKONYA
Tanah Laut (MAN ICT) — Potensi tanaman lokal kembali menjadi perhatian peneliti muda MAN Insan Cendekia Tanah Laut. Kali ini, Ananda Hamidah dan Fissilmi Dakhilah, siswi MAN IC Tanah Laut, mengangkat tanaman jeruju (Acanthus ilicifolius) yang tumbuh di kawasan pesisir sebagai objek penelitian untuk dikembangkan menjadi acne patch berbasis hidrogel.
Penelitian yang bergerak pada bidang Matematika, Sains, Teknologi, dan Lingkungan (MSTL), subbidang Farmasi Kesehatan ini berangkat dari pertanyaan sederhana namun penting: apakah jeruju dapat dimanfaatkan sebagai bahan aktif acne patch sekaligus tetap aman digunakan?
Jeruju dikenal sebagai salah satu tanaman mangrove yang memiliki berbagai senyawa bioaktif dan secara tradisional telah dimanfaatkan untuk membantu mengatasi masalah kulit. Namun, karakteristik habitatnya juga menjadi perhatian. Tanaman yang hidup di kawasan pesisir memiliki kemungkinan menyerap logam berat dari lingkungan. Karena itu, penelitian Ananda dan Fissilmi tidak hanya berfokus pada potensi jeruju, tetapi juga menempatkan aspek keamanan bahan baku sebagai bagian penting dalam penelitian.
“Kami tertarik meneliti jeruju karena tanaman ini memiliki potensi sebagai bahan alam yang cukup besar, tetapi potensi tersebut tidak boleh dipisahkan dari aspek keamanannya. Karena itu, kami ingin melihat bukan hanya apakah jeruju bisa dikembangkan menjadi acne patch, tetapi juga apakah bahan bakunya aman untuk dipertimbangkan lebih lanjut,” ujar Ananda Hamidah.
Dalam penelitian tersebut, kedua siswa mengembangkan acne patch berbasis hidrogel dengan ekstrak daun jeruju. Sejumlah pengujian dilakukan untuk mengetahui karakteristik dan keamanan sediaan, meliputi skrining fitokimia, pengujian mikrobiologi, analisis logam berat, serta evaluasi karakteristik fisik sediaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun jeruju berhasil diperoleh dari dua lokasi penelitian dan dapat diformulasikan menjadi acne patch berbasis hidrogel. Seluruh formula menghasilkan sediaan yang homogen, berbentuk lembaran elastis, dengan ketebalan berkisar 0,13–0,25 mm dan pH 5,39–6,24.
Sementara itu, hasil analisis logam berat menunjukkan adanya Pb dan Cr pada sampel, sedangkan kadar Cd berada di bawah 0,039 mg/kg pada kedua sampel. Temuan tersebut menjadi perhatian penting dalam melihat kelayakan jeruju sebagai bahan baku sediaan untuk kulit.
Pada pengujian mikrobiologi, Staphylococcus aureus tidak terdeteksi pada kedua sampel. Dengan demikian, aktivitas antibakteri terhadap bakteri tersebut belum dapat dibuktikan melalui pengujian yang dilakukan.
“Hasil penelitian ini membuat kami belajar bahwa inovasi berbasis bahan alam tidak cukup hanya melihat manfaatnya. Kita juga harus memperhatikan keamanan, kondisi lingkungan tempat tanaman tumbuh, dan melakukan pengujian secara ilmiah sebelum menyimpulkan bahwa suatu bahan layak digunakan,” ungkap Fissilmi Dakhilah.
Penelitian ini menunjukkan bahwa jeruju memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bahan acne patch dengan karakteristik fisik yang baik, namun masih diperlukan penelitian dan pengujian lebih lanjut, khususnya terkait keamanan bahan baku serta pembuktian aktivitas antibakterinya.
Karya Ananda Hamidah dan Fissilmi Dakhilah menjadi salah satu bentuk kreativitas peneliti muda MAN IC Tanah Laut dalam menggali potensi sumber daya lokal melalui pendekatan ilmiah. Dari tanaman pesisir yang selama ini belum banyak mendapat perhatian, lahir sebuah penelitian yang mengajarkan bahwa inovasi bukan hanya tentang menemukan manfaat, tetapi juga memahami risiko dan memastikan keamanan.
Jeruju punya potensi. Namun, keamanan tetap menjadi prioritas. 🌱🔬✨